efek bystander di konser
mengapa sulit mendapatkan pertolongan di tengah ribuan orang
Bayangkan kita sedang berada di sebuah festival musik yang sangat masif. Bass dari speaker berdegup kencang, sampai getarannya terasa di tulang dada kita. Lampu sorot menyambar-nyambar ke udara. Ribuan orang bernyanyi bersama, melompat, dan kita merasa tergabung dalam sebuah gelombang euforia yang luar biasa. Namun, di tengah lautan manusia yang sedang merayakan kebahagiaan itu, tiba-tiba seseorang di sebelah kita ambruk. Napasnya tersengal. Wajahnya pucat pasi. Logika kita pasti akan langsung berpikir: di tengah keramaian seperti ini, pertolongan pasti akan datang dalam hitungan detik, bukan? Nyatanya, sejarah dan sains sering kali berkata lain. Justru di tengah ribuan pasang mata itulah, orang yang terkapar tadi bisa menjadi sangat tidak kasatmata. Mari kita bedah mengapa fenomena ironis ini bisa terjadi di sekitar kita.
Melihat kenyataan pahit itu, pertanyaan besarnya adalah: apakah kita pada dasarnya adalah makhluk yang egois dan mati rasa? Rasanya terlalu naif dan pesimis jika kita langsung mengambil kesimpulan seburuk itu. Mari kita mundur sejenak melihat sejarah kelam di tahun 1964, ketika dunia psikologi diguncang oleh kasus pembunuhan Kitty Genovese di New York. Kabarnya, puluhan tetangganya mendengar teriakan minta tolong dari balik jendela apartemen mereka, tapi nyaris tidak ada satu pun yang turun tangan memanggil polisi. Dari rentetan peristiwa semacam itulah, para ilmuwan mulai merumuskan sebuah konsep yang mengubah cara kita memandang manusia dalam kerumunan. Fenomena psikologis ini dinamakan bystander effect atau efek penonton. Tapi, mari kita bawa konsep ini kembali ke area moshpit atau tribune konser tadi. Mengapa panggung musik yang penuh dengan empati dan lirik cinta bisa seketika berubah menjadi ruang hampa yang dingin? Ternyata, ada mekanisme aneh di dalam kepala kita yang sedang bekerja keras saat kita dikepung oleh massa.
Saat kita menonton konser, otak kita sebenarnya sedang mengalami sensory overload atau kelebihan beban sensorik. Coba kita pikirkan. Ada suara yang sangat bising, hawa panas dari tubuh orang lain, kilatan cahaya yang menyilaukan, dan ribuan wajah asing yang membanjiri saraf visual kita secara bersamaan. Dalam kondisi kelebihan beban yang ekstrem ini, otak manusia cenderung mencari jalan pintas untuk mengambil sebuah keputusan. Jalan pintas itu bernama petunjuk sosial. Saat melihat seseorang terguling di sebelah kita, insting pertama otak ternyata bukanlah langsung menolong. Insting pertama kita adalah menengok ke arah wajah orang-orang di sekitar kita. Kita mencari konfirmasi dari lingkungan. "Apakah ini sungguh keadaan darurat?" Dan di sinilah lingkaran setan itu dimulai. Karena semua orang saling menengok dan saling menunggu reaksi satu sama lain, kerumunan itu secara kolektif akan terlihat tenang dan diam. Hasilnya? Otak kita tertipu, lalu dengan polosnya menyimpulkan bahwa situasi tersebut baik-baik saja karena tidak ada yang panik. Namun, tahukah teman-teman, ada satu alasan matematis lagi yang jauh lebih menakutkan tentang mengapa kita memilih diam membeku?
Inilah puncak dari ilusi psikologis kerumunan yang sering kali memakan korban. Dalam ilmu psikologi sosial, ada sebuah hukum matematis yang kejam bernama difusi tanggung jawab. Konsepnya begini. Jika kita sendirian berjalan di lorong sepi dan melihat seseorang pingsan, beban tanggung jawab moral kita adalah 100 persen. Otak kita tahu pasti, jika kita tidak bertindak, nyawa orang itu bisa melayang. Tetapi, coba masukkan diri kita ke dalam kerumunan sepuluh ribu penonton konser. Tiba-tiba, tanggung jawab 100 persen tadi dibagi rata ke sepuluh ribu orang. Beban moral pribadi kita menyusut menjadi nyaris nol persen. Alam bawah sadar kita akan berbisik dengan sangat meyakinkan, "Ah, tenang saja, pasti sebentar lagi ada panitia, satpam, atau penonton lain yang lebih paham medis yang akan menolong." Masalah utamanya adalah: kesepuluh ribu orang lainnya memikirkan kalimat yang sama persis di detik yang sama! Ditambah lagi dengan apa yang disebut pluralistic ignorance atau pengabaian pluralistik. Kita menahan diri karena takut dinilai berlebihan, takut merusak suasana seru, padahal jauh di dalam hati kita merasa sangat cemas. Ilusi "pasti ada orang lain yang bertindak" inilah yang membuat ribuan orang bisa mendadak lumpuh secara moral.
Setelah kita sama-sama mengetahui fakta sains yang cukup suram ini, pertanyaannya sekarang adalah: bagaimana kita bisa mematahkan mantra jahat kerumunan tersebut? Jawabannya ternyata sangat praktis dan bisa kita terapkan kapan saja. Jika suatu saat kita yang menjadi korban, atau kita melihat seseorang tumbang di tengah konser, jangan pernah berteriak "Tolong!" ke arah kerumunan secara acak. Tunjuklah satu orang secara spesifik. Tatap matanya secara langsung. Katakan dengan lantang, "Hei, kamu yang pakai jaket merah bertopi hitam, tolong panggilkan tim medis sekarang!" Detik itu juga, kita membatalkan hukum difusi tanggung jawab. Kita menarik paksa beban moral dari kerumunan, dan mengembalikannya secara utuh 100 persen ke pundak orang berjaket merah tersebut. Otak dan psikologi manusia memang rumit, bahkan kadang terlihat apatis saat berada di tengah massa. Namun, pemahaman akan cara kerja biologi dan psikologi ini justru memberi kita senjata dan kekuatan baru. Lain kali saat teman-teman berada di tengah lautan manusia—entah itu di festival musik, stadion bola, atau bahkan di pinggir jalan raya—mari berjanji pada diri sendiri. Kita tidak akan menjadi sekadar penonton yang pasif menunggu pahlawan datang. Kita sadar akan ilusi itu, dan kita sendiri yang akan memilih untuk menjadi orang pertama yang memecah keheningan.